BERITASUKABUMI.ID | Palabuhanratu – Suasana meriah dan penuh makna menyelimuti Alun-alun Gadobangkong, Kecamatan Palabuhanratu, pada Kamis (21/5/2026). Ribuan warga berbondong-bondong memadati lokasi tersebut untuk menyaksikan dan mengikuti puncak peringatan Hari Nelayan Palabuhanratu yang ke-66. Perayaan tahunan masyarakat pesisir ini berlangsung semarak dengan digelarnya arak-arakan budaya yang menjadi identitas kearifan lokal wilayah selatan Kabupaten Sukabumi.
Prosesi arak-arakan dimulai dari Pendopo Kecamatan Palabuhanratu dan bergerak menuju lokasi alun-alun. Rombongan dipimpin langsung oleh Bupati Sukabumi, H. Asep Japar, didampingi Wakil Bupati, H. Andreas, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Turut hadir dalam kesempatan istimewa ini, Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan RI, Muhammad Arfian, yang menandakan perhatian pemerintah pusat terhadap peran strategis nelayan di daerah.
Dalam sambutannya, Bupati H. Asep Japar menilai penyelenggaraan festival budaya ini sebagai bukti nyata bahwa tradisi yang diwariskan leluhur tidak hanya mampu bertahan, namun juga berkembang menjadi daya tarik wisata yang bernilai ekonomi tinggi. Menurutnya, kegiatan ini menjadi jembatan penghubung antara pelestarian adat dengan kemajuan kesejahteraan masyarakat.
“Melalui peringatan Hari Nelayan ke-66 ini, kita berharap nilai-nilai budaya dan adat istiadat yang berkaitan dengan kelautan tetap terjaga kelestariannya. Semoga pula, usaha keras para nelayan senantiasa dibarengi dengan limpahan rezeki dan hasil tangkapan yang melimpah,” ujar Asep Japar di hadapan ribuan warga.
Lebih jauh, Bupati mengajak segenap elemen masyarakat untuk memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan laut. Hal ini dianggapnya sangat krusial agar kekayaan sumber daya perikanan tetap terjaga dan dapat dinikmati, tidak hanya oleh generasi saat ini, namun juga menjadi warisan berharga bagi anak cucu di masa mendatang.
Sementara itu, Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan RI, Muhammad Arfian, memandang peringatan ini bukan sekadar seremonial belaka. Baginya, momen ini adalah wujud ungkapan rasa syukur masyarakat pesisir atas karunia alam bahari yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Ia pun mengapresiasi semangat para nelayan yang bekerja keras mengarungi samudera demi menghidupi keluarga dan negeri.
“Setiap kali melaut, para nelayan membawa harapan besar dan doa yang tulus. Oleh karena itu, menjaga laut agar tetap lestari adalah keharusan. Kelestarian laut adalah jaminan utama agar mata pencaharian ribuan keluarga di pesisir ini tetap terpelihara hingga masa depan,” tegas Arfian.
Ketua Panitia Pelaksana, Pepen Supendi, menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan warisan leluhur yang sarat makna sejarah dan spiritual. Ia mengaku sangat bersyukur dan berterima kasih atas dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, aparat keamanan, sponsor, hingga masyarakat luas, yang bahu-membahu menjaga kelancaran dan keamanan seluruh rangkaian acara.
“Terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berperan aktif menjaga kondusivitas acara ini. Semangat kebersamaan inilah yang membuat tradisi ini terus hidup dari tahun ke tahun,” ungkap Pepen.
Di sisi lain, muncul usulan strategis dari Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Sukabumi. Melalui Koordinator Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Budaya, Nandang Herawan, organisasi tersebut mendorong pemerintah daerah untuk mengakomodasi produk hasil tangkapan nelayan lokal ke dalam menu program strategis nasional, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Nandang, langkah ini memiliki dua dampak positif sekaligus. Pertama, dapat meningkatkan nilai ekonomi dan kesejahteraan para nelayan. Kedua, menjamin ketersediaan bahan pangan bergizi sehat dan segar bagi masyarakat penerima manfaat program.
“Integrasi hasil laut ke dalam menu Makan Bergizi Gratis akan menjadi solusi saling menguntungkan. Nelayan terbantu pemasarannya, dan masyarakat mendapatkan asupan gizi terbaik dari hasil bumi dan laut sendiri,” pungkas Nandang. (Yanto)





