BERITASUKABUMI.ID – PT Amerta Indah Otsuka kembali menegaskan komitmen membangun masa depan berkelanjutan melalui penyelenggaraan Program Pertukaran Budaya (Culture Exchange), yang mempertemukan siswa JOTO High School, Tokushima–Jepang dengan Brawijaya Smart School (BSS), Malang. Program ini menjadi ruang kolaborasi generasi muda kedua negara untuk saling belajar budaya, lingkungan, serta merancang solusi bersama mendukung ekonomi sirkular dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Malang, 6 Juli 2026. Kegiatan ini merupakan kelanjutan kerja sama yang telah terjalin sejak partisipasi kedua sekolah pada World Kansai Expo 2025 dengan tema daur ulang sumber daya. Keduanya kini menghadirkan Circulating Giboshi ornamen tradisional Jepang dari daerah Tokushima, yang dibuat dari botol plastik bekas yang dikumpulkan siswa di kedua negara, lalu didaur ulang menjadi karya seni. Giboshi yang melambangkan perlindungan kini bermakna baru: harapan bersama menjaga bumi lewat pengurangan sampah plastik dan pemanfaatan kembali material.
Kegiatan dihadiri Penjabat Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang Drs. Gamaliel Raymond H, Direktur Yayasan Brawijaya Smart School Dr. Binti Maksuda, serta perwakilan manajemen PT Amerta Indah Otsuka.
Business Development Director PT Amerta Indah Otsuka, Kozue Nakada, menyampaikan pendidikan dan kolaborasi adalah fondasi masyarakat yang sehat dan berkelanjutan.
“Keberlanjutan bukan hanya soal menjalankan bisnis secara bertanggung jawab, melainkan juga menginspirasi generasi penerus menjadi bagian dari solusi. Lewat pertukaran budaya ini, kami ingin membangun jembatan persahabatan Indonesia–Jepang sekaligus menanamkan bahwa tindakan kecil seperti mendaur ulang botol plastik dapat memberi dampak besar bagi bumi,” ujarnya.
Plt. Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond, mengapresiasi pendekatan kreatif ini. “Membangun kota berkelanjutan sangat bergantung pada peran generasi muda. Program ini membuktikan edukasi lingkungan bisa dikemas menarik lewat pertukaran budaya dan kerja sama internasional. Semakin banyak pemuda tergerak hidup bertanggung jawab terhadap lingkungan,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Yayasan BSS, Binti Maksuda, menambahkan pengalaman belajar bersama siswa Jepang memberi nilai lebih dari sekadar akademik. “Mereka belajar kepemimpinan, komunikasi lintas budaya, dan kepedulian pada isu global seperti perubahan iklim dan pengelolaan sampah. Ini membentuk karakter mereka sebagai warga dunia yang siap menghadapi masa depan,” ucapnya.
Selama kegiatan, para siswa berdiskusi tentang daur ulang sumber daya, pengelolaan sampah, ekonomi sirkular, dan aksi lingkungan, serta bertukar pengalaman dan gagasan yang dapat diterapkan di sekolah maupun masyarakat.
Mengusung semangat “An Invisible Bridge Uniting Youth for a Sustainable Future,” (Jembatan Tak Terlihat yang Menyatukan Pemuda untuk Masa Depan Berkelanjutan), program ini menjadi awal kolaborasi yang lebih luas sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama pendidikan berkualitas, konsumsi-produksi bertanggung jawab, kemitraan global, dan pelestarian lingkungan untuk generasi mendatang. (Red)





