BERITASUKABUMI.ID — Di usia yang baru menginjak lima tahun, kebanyakan anak mungkin masih sibuk bermain dan mengenal lingkungan sekitarnya. Namun, bagi Noah Gasendra, siswa TKIT Adzkia Kota Sukabumi, masa kecilnya diisi dengan hal yang luar biasa: ia belajar merakit robot sekaligus mendekatkan diri kepada Al-Qur’an.
Bahkan, Noah baru saja membuktikan keberaniannya dengan meraih prestasi dalam ajang Sukabumi Robotic Competition kategori Fast Building tingkat Kota Sukabumi yang digelar pada 30 Agustus 2026.
Di tengah peserta yang mungkin lebih besar usianya, Noah tampil tenang dan berani menyelesaikan tantangan membangun robot. Bagi anak seusianya, pengalaman ini bukan soal piala semata, melainkan langkah awal membangun kepercayaan diri dan keberanian mencoba hal baru.
“Aku senang ikut lomba robot. Aku suka bikin robot,” ucap Noah polos saat ditanya apa yang ia rasakan.
Ketertarikannya pada bidang teknologi dan mekanik tumbuh secara alami, didukung penuh oleh kedua orang tuanya, Adinda Rachmawati dan Moch Jodi Nur Iksan. Bagi mereka, prestasi adalah buah yang menyenangkan, namun proses dan kebahagiaan anak jauh lebih utama.
“Kami melihat Noah memang tertarik dengan robotik. Jadi kami berikan kesempatan untuk belajar dan mencoba. Kalau kemudian mendapat prestasi, tentu kami bersyukur. Tapi yang terpenting Noah menikmati prosesnya, berani mencoba, dan terus belajar,” ungkap Adinda dan Moch Jodi.
Di samping kecintaannya pada robotik, Noah juga menumbuhkan kedekatan dengan Al-Qur’an. Di sekolahnya, TKIT Adzkia, ia telah lancar menghafal hingga Surat Al-A’la. Dua aspek yang tampak berbeda satu mengajarkan logika dan keterampilan tangan, satu lagi menanamkan nilai dan kalam Ilahi, justru saling melengkapi dalam pertumbuhannya.
Kepala TKIT Adzkia Kota Sukabumi, Sumiyati sangat mengapresiasi semangat Noah. Baginya, setiap anak memiliki potensi unik yang perlu diberi ruang untuk tumbuh.
“Kami sangat mengapresiasi keberanian Noah mengikuti kompetisi di usia yang masih sangat dini. Prestasi bukan hanya soal piala atau kemenangan, tetapi tentang keberanian anak untuk mencoba, belajar, dan menunjukkan potensinya,” ujar Sumiyati.
Ia menambahkan, sekolah berkomitmen menghadirkan lingkungan belajar yang seimbang dan mengembangkan keterampilan sekaligus memperkuat fondasi nilai-nilai luhur.
“Kami ingin anak-anak mengeksplorasi minat, membangun kepercayaan diri, dan menghadapi tantangan. Di saat yang sama, nilai-nilai Al-Qur’an tetap menjadi bagian penting dalam proses tumbuh mereka,” lanjutnya.
Kisah Noah menjadi bukti bahwa sejak dini, anak-anak dapat dikenalkan pada banyak hal tanpa harus kehilangan jati diri. Ilmu pengetahuan dan teknologi tidak harus berjarak dari nilai-nilai agama; keduanya justru bisa berjalan beriringan, membentuk pribadi yang cerdas sekaligus berbudi luhur.
Langkah kecil Noah hari ini, merakit robot dan menghafal Al-Qur’an. Mungkin sederhana, namun di sanalah semangat ingin tahu, keberanian, dan kecintaan pada ilmu terus tumbuh. Dan di usia lima tahun, itulah hal yang paling berharga: diberi kesempatan seluas-luasnya untuk terus bertumbuh.
Redaktur: Yanto




