BERITASUKABUMI.ID – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud Ristek, melakukan diseminasi program prioritas bidang kebahasaan dan kesastraan untuk penyusunan rekomendasi kebijakan badan bahasa yang digelar di Kota Sukabumi, Minggu (02/07/2023).
Dalam kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Anggota Komisi X DPR RI, Desy Ratnasari dan Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat Herawati.
Setidaknya ada 100 peserta dalam kegiatan ini, diantaranya dari unsur pemerintah daerah, Dinas Pendidikan, kepala sekolah, pengawas, guru, praktisi pendidikan, dosen, pegiat literasi, dan tokoh masyarakat.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat Herawati mengatakan, diseminasi program kebahasaan dan kesastraan menjadi langkah strategis yang dilakukan badan bahasa sebagai bentuk akuntabilitas keterbukaan informasi publik.
“Sebagai unit utama di Kemendikbud Ristek yang mengawal salah satu lambang negara yakni bahasa, saat ini telah melakukan transformasi kebijakan dengan tiga fokus utama yakni, literasi kebahasaan dan kesastraan, perlindungan bahasa dan sastra dan internasionalisasi Bahasa Indonesia,” kata Herawati kepada awak media, Minggu (02/07/2023).
Tiga program prioritas tersebut yakni, literasi kebahasaan dan kesastraan, perlindungan bahasa dan sastra daerah serta Internasionalisasi bahasa Indonesia.
Herawati menyampaikan, diseminasi ini tidak hanya dilakukan di Kota Sukabumi saja, terdapat lima Kota dan Kabupaten lainnya, yaitu Kota Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Tegal.
“Satu dari dua peserta didik belum mencapai kompetensi minimum literasi Hasil AN 2021, konsisten dengan hasil PISA dalam 20 tahun terakhir yang menunjukkan, bahwa skor literasi membaca peserta didik di Indonesia masih rendah dan belum berubah secara signifikan di bawah rata-rata peserta didik di negara OECD,” terang dia.
Dia menjelaskan, literasi kebahasaan dan kesastraan merupakan salah satu upaya badan bahasa untuk menciptakan ekosistem masyarakat Indonesia yang berbudaya literasi khususnya dalam baca tulis. Hasil Asesmen Nasional (AN) 2021, menunjukkan bahwa Indonesia mengalami darurat literasi.
Pada tahun 2022, Kemendikbud Ristek meluncurkan program buku bacaan bermutu untuk literasi Indonesia, dengan mencetak dan mengirimkan lebih dari 15 juta eksemplar buku untuk lebih dari 20 ribu PAUD dan SD yang paling membutuhkan.
“Terdapat tiga pilar penting dalam program literasi, yakni pemilihan dan penjenjangan, cetak dan distribusi, pelatihan dan pendampingan,” jelas dia.
Lebih lanjut, Kemdikbud Ristek juga melakukan perlindungan bahasa dan sastra daerah. Hal itu, sebagai upaya menjaga bahasa dan sastra daerah agar tidak punah. Karena itu, berbagai aktivitas dilaksanakan dalam rangka melindungi bahasa daerah. Seperti pemetaan bahasa, kajian daya hidup bahasa, konservasi, revitalisasi, dan registrasi.
“Dari berbagai aktivitas perlindungan bahasa daerah, prioritas tahun ini diarahkan pada upaya menumbuhkan penutur muda melalui revitalisasi bahasa daerah,” ujar dia.
Masih kata Herawati, revitalisasi merupakan langkah strategis dalam menggelorakan kembali penggunaan bahasa daerah dalam berbagai ranah kehidupan sehari-hari melalui cara yang menyenangkan.
Menurutnya, revitalisasi juga merupakan upaya menjamin hak masyarakat adat untuk melestarikan dan mempromosikan bahasa serta mengutamakan keragaman bahasa ke dalam semua agenda pembangunan.
“Kami telah meluncurkan program Merdeka Belajar Episode-17 yakni revitalisasi bahasa daerah. Pada tahun 2022 telah melakukan revitalisasi bahasa daerah sebanyak 39 bahasa daerah yang terdapat di 157 kabupaten pada 13 provinsi. Dengan melibatkan 104.112 guru dan kepala sekolah yang telah mengimbaskan kepada 2.905.311 siswa SD dan SMP sebagai penutur muda,” tandasnya.
Redaktur: Yanto





