BERITASUKABUMI.ID – Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Puskesmas Cicurug bekerjasama dengan RS Bhakti Medicare Cicurug (BMC) mengadakan kegiatan konsultasi dan screning terkait masalah gizi dan stunting terhadap balita tepatnya di Kantor Kelurahan Cicurug, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jumat (04/08/23)
Kepala UPTD Puskesmas Cicurug, dr Nina Suminarsih melalui Kasubag Tata Usaha, Hani Sadiah mengatakan, bahwa kegiatan konsultasi gizi balita ini bersama DR. dr Rahmini S.SpA dari RS Bhakti Medicare Cicurug yang sudah dilaksanakan di dua desa yaitu Desa Kutajaya dengan sasaran kepada 34 balita dan Desa Benda 32 balita serta sekarang ini di Kelurahan Cicurug.
“Permasalahan gizi terhadap balita ini yaitu, masalah gizi dengan status stunting, status gizi kurang serta dengan kasus status gizi buruk,” ujarnya kepada beritasukabumi.id.
Lanjutnya, bahwa untuk di Kelurahan Cicurug ini dengan sasaran kepada 28 orang balita yang sebagai lokus percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Sukabumi.
“Untuk tambahan makanan untuk balita stunting ini ada yang melalui program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal dengan pendanaan dari DAK non fisik tahun 2023 di mana pada bulan Agustus ini sudah masuk pada putaran ke dua, serta melalui program Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sukabumi ke UPTD Dalduk yang telah menyalurkan bantuan sosial kepada Keluarga Resiko Stunting (KRS) yang berada di wilayah Kecamatan Cicurug serta bantuan dari Ikatan Bidan Indonesia (IBI), “ungkapnya.
Pihaknya berharap dengan adanya kegiatan ini bahwa stunting bisa ada penurunan walaupun di Kecamatan Cicurug cakupannya hanya 377 orang diangka 3 persen lebih.
“Akan tetapi secara nyata ini masih belum pasti, namun secara realita mudah-mudahan tidak sampai diangka 14 persen secara nasional,” pungkasnya.
Sementara itu, Direktur RS Bhakti Medicare, DR. dr Rahmini S. Spa mengatakan, sesuai data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi bahwa ada beberapa desa di Kecamatan Cicurug dengan adanya lokus stunting sehingga dilakukan screening untuk upaya menurunkan angka stunting tersebut.
“Iya tujuan dengan adanya screening ini untuk mengetahui berapa persen yang ada di Kecamatan Cicurug terkait stunting ini, sehingga saya berupaya untuk terjun langsung ke lapangan,” kata dia.
Menurutnya, inti dari stunting ini yaitu bagaimana cara pengukuran dan penimbangannya serta alat yang digunakannya juga benar, sehingga dengan cara yang benar akan bisa diketahui apakah balita ini stunting atau stunted.
“Kalau stunted adalah perawakan pendek, ada juga gizi kurang atau yang saya temukan yaitu gagal tumbuh,” ujarnya.
Lanjutnya, dari hasil screening di tiga lokasi ini dirinya belum bisa memberikan jumlah persentase balita yang mengalami stunting atau stuted, jadi harus bisa membedakan bahwa balita tersebut mengalami stunting atau stunted.
“Kalau yang stunting ini kita membutuhkan data, baik tinggi badan, berat badan sampai tinggi badan orang tua itu yang harus saya konfirmasi terlebih dahulu sesuai data sebelumnya,” ungkapnya.
Bahwa intinya ada beberapa faktor stunting ini terutama yaitu masalah asupan gizi makanan yang terganggu akibat dari infeksi seperti batuk pilek terhadap anak, riwayat penyakit serta pola asuh ini sangat mempengaruhi juga.
“Mudah-mudah dengan target 3 bulan ini bisa ada perubahan melalui kegiatan seperti ini, dengan melakukan perawatan dan pemeriksaan secara berkala,” pungkasnya.
Reporter: Usep Suherman
Redaktur: Yanto




