BERITASUKABUMI.ID – Menjawab kebutuhan para pendidik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) akan pola ajar yang lebih menarik, bermakna, dan sesuai dengan karakteristik anak, tim dosen serta mahasiswa Program Studi Magister PAUD Pascasarjana Universitas Panca Sakti (PSU) Bekasi melaksanakan langkah nyata. Melalui kegiatan bertajuk Lokakarya Penerapan Pembelajaran STEAM dengan Pendekatan Penemuan untuk Meningkatkan Kemampuan Guru PAUD, mereka hadir langsung di Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi pada Sabtu, 2 Mei 2026. Acara berlangsung di Aula Kantor Desa Mangkalaya dan dihadiri oleh puluhan pendidik dari berbagai lembaga PAUD di wilayah tersebut.
Kegiatan ini menjadi ruang berbagi ilmu yang sangat berharga dan relevan bagi para peserta. Bukan sekadar pertemuan biasa, lokakarya ini menyampaikan pesan utama bahwa proses belajar bagi anak usia dini harus terus dikembangkan agar lebih aktif, memberi makna nyata, serta membuka ruang bagi anak untuk berpikir kritis, bertanya, mencoba hal baru, dan menemukan sendiri pengetahuannya.
Konsep pembelajaran STEAM yang merupakan singkatan dari (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) atau Sains, Teknologi, Rekayasa, Seni, dan Matematika, digabungkan dengan pendekatan penemuan, mengajak para guru memahami bahwa metode pengajaran yang baik tidak harus selalu rumit atau menggunakan alat canggih. Sebaliknya, dari kegiatan sederhana yang berkaitan langsung dengan keseharian anak, pendidik dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, kaya manfaat, serta mampu menumbuhkan semang ingin tahu sejak dini.
Dr. Nita Priyanti, M.Pd. yang bertindak sebagai pembimbing dalam kegiatan ini menegaskan bahwa peningkatan kemampuan pendidik PAUD menjadi hal mutlak dilakukan. Tujuannya agar para guru tidak hanya mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, tetapi juga mampu membangun dasar pola pikir dan karakter anak sejak usia paling awal.
“Pendekatan STEAM berbasis penemuan sangat cocok diterapkan di lingkungan PAUD, karena pada dasarnya anak belajar didorong oleh rasa penasaran yang besar. Apabila pendidik mampu mengarahkan rasa ingin tahu tersebut menjadi proses penjelajahan yang terarah, maka kegiatan belajar mengajar akan terasa lebih hidup, memberikan dampak positif secara menyeluruh bagi pertumbuhan anak, serta meninggalkan kesan yang mendalam,” ujar Dr. Nita.
Untuk memastikan materi tersampaikan dengan lengkap dan mudah dipahami, lokakarya ini menghadirkan enam pembicara andal yang menggabungkan pemahaman teori serta pengalaman nyata di lapangan. Mereka adalah Dr. Efrini, M.Ed., Wyanita Setya Husnaeni, S.Si., S.Pd., Dwi Adji Dilliani, S.S., Sekar Pinilih, S.E., Dewi Murti Yuliati, S.Pd., dan Nunuk Eny Kisworo, S.Sos.I. Dengan latar belakang yang beragam, para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan dasar yang kuat, tetapi juga gambaran jelas mengenai cara menerapkan konsep tersebut secara sederhana, tepat sasaran, dan sesuai dengan kondisi lingkungan pendidikan di daerah.
Salah satu pembicara, Wyanita Setya Husnaeni, mengemukakan bahwa keberhasilan pendidikan di tingkat PAUD tidak bergantung pada kelengkapan fasilitas atau alat ajar yang mahal. Yang paling utama adalah kemampuan pendidik menyusun pengalaman belajar yang mengajak anak untuk mengamati, mengajukan pertanyaan, mencoba melakukan sesuatu, hingga menarik kesimpulan dari hal-hal sederhana di sekitarnya.
“Anak usia dini memiliki semangat ingin tahu yang luar biasa besar. Inilah modal utama yang dijadikan dasar dalam pendekatan penemuan. Ketika guru mampu menggabungkan hal ini dengan konsep STEAM, maka ruang kelas akan menjadi tempat yang sangat istimewa untuk mengembangkan bakat kreativitas, kemampuan menalar, keberanian berpendapat, serta kebiasaan berpikir secara teratur sejak usia dini,” jelasnya.
Selain berfokus pada penjelasan teori, kegiatan ini juga menekankan pada penerapan langsung di lapangan. Para pendidik diajak melihat bahwa materi STEAM bisa dimulai dari benda-benda yang biasa ada di ruang kelas, permainan yang sederhana, pengamatan terhadap lingkungan sekitar, percobaan kecil, hingga aktivitas yang mendorong anak untuk membandingkan, menebak, dan menemukan jawaban sendiri. Hal inilah yang membuat lokakarya ini sangat berguna karena memberikan solusi nyata atas kesulitan yang sering dihadapi pendidik, yaitu bagaimana menerapkan konsep ajar yang baik dan bisa langsung dipraktikkan, bukan sekadar tertulis di atas kertas.
Kehadiran Kepala Kelompok Kerja Pendidikan Anak Usia Dini Kecamatan Gunungguruh, Eva Puspitasari Kusyana, memberikan semangat tambahan bagi seluruh peserta dan penyelenggara. Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan di tingkat dasar sangat berkaitan erat dengan kemauan pendidik untuk terus belajar dan memperbarui pengetahuannya.
“Guru PAUD adalah fondasi awal bagi seluruh jenjang pendidikan selanjutnya. Apabila para pendidik dibekali dengan cara mengajar yang baru, inovatif, dan bermakna seperti pendekatan STEAM berbasis penemuan, maka dampaknya akan sangat terasa pada kualitas proses belajar dan hasil perkembangan anak-anak kita,” ungkap Eva.
Semangat para peserta terlihat jelas sejak acara dimulai hingga berakhir. Diskusi berlangsung dengan hidup, suasana terasa akrab dan hangat, serta para pendidik tampak serius menghubungkan materi yang diterima dengan pengalaman mengajar yang telah mereka lakukan selama ini. Hal ini membuktikan bahwa topik yang diangkat memang benar-benar menjawab kebutuhan nyata para pendidik, yaitu bagaimana menciptakan suasana belajar yang tidak hanya disukai anak, tetapi juga mampu memelihara dan mengembangkan rasa ingin tahu mereka secara alami.
Salah satu peserta, Tuti Alawiyah, mengakui bahwa kegiatan ini telah membuka pandangan barunya mengenai penerapan konsep STEAM di PAUD. Selama ini, banyak pendidik menganggap konsep tersebut hanya bisa diterapkan dengan bantuan alat khusus dan cara yang rumit. Namun setelah mengikuti serangkaian acara, ia menyadari bahwa konsep ini sebenarnya sangat sederhana dan mudah dilakukan, asalkan pendidik mampu menyusun alur kegiatan yang tepat.
“Selama ini saya dan rekan-rekan sering berpikir bahwa STEAM itu sulit dan butuh banyak alat khusus. Setelah mengikuti lokakarya ini, pemahaman kami berubah sepenuhnya. Kami jadi mengerti bahwa hal ini bisa dilakukan melalui kegiatan sehari-hari yang dekat dengan anak, asalkan kita mampu memancing rasa penasaran dan mengarahkan cara berpikir mereka dengan baik. Pengetahuan ini sangat berharga dan pasti akan kami terapkan di kelas masing-masing,” tuturnya.
Keberhasilan acara ini juga tidak lepas dari dukungan berbagai pihak yang ikut berperan serta dalam memastikan kelancaran jalannya kegiatan. Beberapa pihak yang turut mendukung di antaranya PT Badiuzzaman Citra Amani, MS Glow, Zachefa Coffee, Teknolab Solusindo, Surya Group, Nazeer Shop, dan Percetakan Purbasari. Partisipasi ini menjadi bukti nyata bahwa usaha meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini membutuhkan kerja sama yang luas serta kepedulian dari berbagai kalangan masyarakat.
Melalui kegiatan ini, tim mahasiswa dan dosen Pascasarjana PSU Bekasi membuktikan bahwa tugas pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar datang dan menyampaikan informasi semata. Lebih dari itu, kegiatan ini bertujuan untuk menghadirkan gagasan yang benar-benar dibutuhkan, mendekatkan teori dengan kenyataan di lapangan, serta menumbuhkan kembali semangat belajar dan mengajar di kalangan para pendidik.
Dari ruang pertemuan sederhana di Desa Mangkalaya, tersebar pesan penting: pendidikan yang berkualitas tidak harus selalu berlangsung di gedung yang megah. Ia dapat tumbuh dan berkembang di tempat mana pun, asalkan para pendidik diberi dukungan, pengetahuan yang memadai, serta kesempatan untuk terus memperbarui semangat dan kemampuannya. Di Kecamatan Gunungguruh, harapan akan pendidikan anak usia dini yang lebih hidup, kreatif, dan bermakna kini sedang dibangun perlahan namun pasti. (Red)






